Kemarin sore, Jum’at 12 Februari 2010, saya lagi nonton salah satu stasiun TV yang menayangkan “Uya Emang Kuya”. Saya paling suka dengan sesi Hipnotis. Di acara kemarin, si gadis yang dihipnotis berkata jujur tentang bagaimana perasaan dia kepada pacarnya. Awal mula si gadis mau jadian sama pacarnya karena si pria menolongnya waktu motornya ngadat, kebetulan si pria adalah pemilik bengkel. Motornya diservis gratis.. setelah kejadian itu si pria-nya sering membelikan baju & handphone.
Karena si pria begitu baik, maka dia menerima saja ketika ditembak si pria. Si gadis sdh berusaha untuk cinta pada si pria, tapi menurut pengakuannya.. usahanya itu sia-sia, karena wajah si pria itu mirip dengan tukang somay yang mangkal di depan sekolahnya. Jadi.., bila lihat si tukang somay, si gadis jadi ilfil sama pacarnya
. Oleh karena itu dia berusaha untuk minta putus, tapi kadang tidak tega karena si pria terlalu baik. Karena bosen dengan keadaan gitu, si gadis akhirnya punya pacar lain, yang berwajah ganteng.. namun kere
Berkaca dari kisah tersebut, sebenarnya banyak wanita yang menjalani suatu hubungan yang sebenarnya tidak dia inginkan. Adanya tekanan dari lingkungan sosial maupun dari keinginan pribadi untuk segera mempunyai pasangan dan menikah, seringkali membuat wanita menjadi terburu-buru untuk memulai hubungan dan atau meresmikan hubungan dengan pria.
Wanita memang didesain untuk dipilih oleh pria. Namun wanita juga mempunyai hak untuk menolak. Saya pernah mendengar kalimat bijak untuk para wanita, “Kalau ada seorang pria yang datang kepada kalian dan menyatakan cintanya, berpikirlah dua kali untuk menolaknya, jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari”
Dulu saya sudah berkali-kali menerima advis dari ibu saya, juga teman-teman saya ketika saya masih jomblo
. Mereka pasti melontarkan kalimat “Dia itu mapan lho, baik, udah deh, terima aja. toh cinta itu bisa dibentuk setelah kamu menikah nanti.”
Entah kenapa saya sangat tidak setuju dengan kalimat “Cinta bisa dibentuk setelah saya menikah”. Bagi saya, cinta itu akan lebih baik bila ditumbuhkan sebelum menikah, melalui proses dan pada akhirnya cinta itu tumbuh secara alamiah.
Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi, bukannya zamannya lagi kawin paksa. Mungkin pola tersebut populer pada generasi orang tua atau kakek nenek saya. Tapi kali ini saya hidup di tahun 2010. Bagi saya sebuah relationship merupakan hubungan yang dijalin oleh seorang pria dan wanita yang saling mencintai.
Bila saya mengikuti pola menikah karena terpaksa, itu artinya saya bertaruh. Karena jika saya mau menikah dengan pria yang asal “Cinta Mati” pada saya, saya tidak tahu apakah kelak saya bisa cinta juga pada pria itu. Kalau bisa ya bagus, kalo tidak bisa ya kecewalah yang akan saya dapat. Karena pernikahan adalah komitmen seumur hidup…, setiap hari saya akan terbangun di tempat tidur yang sama…
Adalah “penderitaan” namanya jika saya terpaksa harus menghabiskan sisa hidup saya dengan seseorang yang tidak saya cintai. Belum lagi konsekuensi psikologis yang mungkin timbul karena pasangan saya merasa tertipu ketika mengetahui bahwa saya tidak pernah mencintainya…
Memang cinta bukanlah satu-satunya alasan untuk menikah, cinta juga bukan satu-satunya dasar untuk membina sebuah rumah tangga, karena dalam pernikahan, cinta harus berjalan dengan komitmen, saling menghormati dan tanggung jawab. Namun tanpa cinta, sebuah pernikahan bukanlah hal yang bermakna…
Mencintai dan dicintai… Dua-duanya adalah pilihan yang tepat jika kita mengalaminya secara bersamaan dengan satu orang yang tepat…


