Dulu ketika saya belum mempunyai anak, impian terbesar saya adalah segera menimang bayi. Apalagi setelah saya mengalami abortus spontan hingga 3 kali karena infeksi toxoplasma.
Setelah menjalani pengobatan intensif, toxoplasma tersebut negatif .. So, saya begitu gembira, makin besar ikhtiar saya untuk bisa hamil. Saking excited-nya, saya sangat patuh dengan nasihat dokter, mengkonsumsi susu dan suplemen asam folat + DHA, termasuk USG (sampai 13 kali USG sepanjang hamil). Tak lupa saya selalu mencatat perkembangan serta berat janin setelah pulang dari periksa.
Hingga Alhamdulillah bayi saya (Alyssa) lahir dengan sehat melalui persalinan normal.
Namun beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, saya mulai dihinggapi perasaan sedih, hal ini disebabkan Alyssa terus-terusan rewel. Saya memang tidak mengkonsumsi jamu, karena menurut dokter sya tidak boleh minum jamu karena dikuatirkan bayi saya diare.
Ketika Alyssa rewel, keluarga selalu menyalahkan saya..”Kamu sih, nggak minum jamu, makanya bayinya rewel terus..lha wong ASInya nggak seger.” Akhirnya saya menuruti kata orang tua deh.. minum jamu.
Tapi beberapa hari setelah itu…Alyssa diare. Ketika aku periksakan ke dokter, analisa beliau, itu karena jamu yang saya minum komposisinya terlalu keras.
Aiihh, saya sangat sedih, saya nggak tau harus berbuat apa. Setelah diare-nya reda, Alyssa masih juga rewel. Nangiiiis terus. Saya sudah makan dalam porsi banyak, plus sayuran dan susu agar kualitas ASI saya bagus. Tapi tetep aja dia rewel, setiap minum ASI pasti muntah. Malah keluarga saya ngomel-ngomel, karena maunya mereka Alyssa dikasih makanan padat agar Alyssa anteng. Kembali saya sangat sedih, masa iya sih bayi satu bulan dikasih makanan padat??
Kehadiran bayi yang sangat saya nanti-nantikan ternyata tak seindah yang saya bayangkan. Saya sering menangis karena merasa sangat capek, merasa begitu kerepotan seharian mengurus si kecil yang terus-terusan rewel, dan stress berkutat dengan pekerjaan mengurus pekerjaan rumah karena cuti tak kunjung habis. Belum lagi saya dibuat mati kutu krn keluarga dan pembantu saya masih begitu percaya dengan mitos2 kejawen yang bagi saya tidak masuk akal. Seperti : Baju dan popok si bayi tak boleh dikeringkan dengan mesin cuci, krn kata orang jawa takut bayinya usil terus..
padahal waktu itu bulan Januari, lagi musin hujan..cucian gk kering2.
Akhirnya saya menelepon teman di kantor, saya kangen mereka… saya butuh support. Dengan kehadiran teman, saya merasa seidikit terobati. Dan untunglah, akhirnya maasa cuti telah habis. Saya kembali bekerja, dan syndrom baby blues atau depresi pasca melahirkan itu terlewati sudah.
Sekedar berbagi…berikut ini (tips dari buku yang saya baca) bila Anda yang mengalami Syndrom Baby Blues :


